I.
PENDAHULUAN
Suatu ilmu
dipelajari karena ada manfaatnya. Diantara ilmu-ilmu itu ada yang memberikan
manfaat dengan segera dan ada pula yang dipetik buahnya setelah agak lama
dimalkan dengan segala ketekunan. [1]
Pada hakikatnya setiap ilmu pengetahuan antara yang satu
dengan yang lainnya itu saling berhubungan. Akan tetapi hubungan tersebut ada
yang sifatnya berdekatan, pertengahan, bahkan ada pula yang jauh. Pada pembahasan kali ini kita akan mengkaji bersama
tentang ilmu-ilmu yang berhubungan dengan ilmu akhlak, yaitu diantaranya ilmu
tasawuf, ilmu tauhid, ilmu jiwa, ilmu pendidikan, filsafat.
Konsep akhlakul karimah adalah konsep hidup yang lengkap
dan tidak hanya mengatur hubungan antara manusia dengan alam
sekitarnya, tetapi juga terhadap penciptanya. Allah menciptakan ilmu
pengetahuan bersumber dari Al-Qur’an. Namun tidak semua orang mengetahui atau
percaya akan hal itu. Ini dikarenakan keterbatasan pengetahuan manusia dalam
menggali ilmu-ilmu yang ada dalam Alqur’an itu sendiri. Oleh karena itu penting sekali permasalahan hubungan antara ilmu akhlak dengan ilmu
lainnya ini diangkat. Dalam uraian ini hubungan Ilmu Akhlak
hanya akan dibatasi pada ilmu-ilmu yang memiliki hubungan yang sangat erat
sebagaimana tersebut di atas. Ilmu-ilmu yang erat hubungannya dengan Ilmu
Akhlak tersebut dapat dikemukakan pada bab selanjutnya.
II.
RUMUSAN
MASALAH
Adapun rumusan
permasalahan yang akan kami ambil sebagai acuan pada makalah ini adalah,
sebagai berikut:
1.
Apa yang dimaksud dengan
pengertian akhlak dan ilmu akhlak?
2.
Bagaimana
hubungan antara Ilmu Akhlak dengan Ilmu Tasawuf?
3.
Bagaimana
hubungan Ilmu akhlak dengan ilmu tauhid?
4.
Bagaimana
hubungan ilmu akhlak dengan ilmu Jiwa?
5.
Bagaimana
hubungan ilmu akhlak dengan ilmu
pendidikan?
6.
Bagaimana
hubungan ilmu akhlak dengan ilmu Filsafat?
III.
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Akhlak
Perkataan akhlak berasal dari
bahasa arab jama’ dari khuluqun,
yang menurut bahasa diartikan budi pekerti, perangai, tindak laku atau tabi’at, adab,
atau tingkah laku.[2]
Kalimat tersebut mengandung segi-segi persesuaian dengan perkataan khalqun
yang berarti kejadian, serta erat hubungannya dengan khaliq yang berarti pencipta dan makhluk, yang berarti yang diciptakan.
Perumusan pengertian akhlak timbul sebagai media yang memungkinkan adanya
hubungan baik antara khaliq dengan makhluk dan antara makhluk
dengan makhluk. [3]
Sedangkan
pengertian akhlak menurut istilah, terdapat pengertian menurut para ahli:[4]
1.
Menurut Ibnu
Maskawih, akhlak adalah keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk
melakukan perbuatan-perbuatan tanpa melalui pertimbangan pikiran terlebih
dahulu. Keadaan ini dibagi dua, ada yang berasal dari tabiat aslinya, ada pula
yang diperoleh dari kebiasaan yang berulang-ulang. Boleh jadi, pada mulanya
tindakan itu melalui pikiran dan pertimbangan, kemudia dilakukan terus-menerus
maka jadilah suatu bakat dan akhlak.
2.
Imam al-Ghazali dalam
Ihya Ulumuddin menyatakan bahwa akhlak adalah daya kekuatan (sifat) yang
tertanam dalam jiwa yang mendorong perbuatan-perbuatan yang sontan tanpa
memerlukan pertimbangan pikiran. Jadi, akhlak merupakan sikap yang melekat pada
diri seseorang dan secara spontan diwujudkan dalam tingkah laku dan perbuatan.
3. Menurut Prof Dr. Ahmad Amin dalam bukunya al akhlak merumuskan pengertian akhlak ialah suatu ilmu yang
menjelaskan arti baik dan buruk, menerangkan apa yang seharusnya dilakukan oleh
setengah manusia kepada lainnya menyetakan tujuan yang harus dituju oleh
manusia dalam perbuatan mereka dan menunjukkan jalan untuk melakukan apa yang
harus diperbuat.[5]
Dari
pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa ilmu akhlak adalah ilmu yang
menentukan batas antara baik dan buruk, antara yang terpuji dan yang tercela
tentang perkataan atau perbuatan manusia lahir dan batin.
Ilmu
akhlak bisa juga diartikan sebagai ilmu yang menjelaskan tentang baik dan
buruk, mempelajari tentang sifat-sifat terpuji dan cara-cara untuk memilikinya,
serta mempelajari tentang sifat-sifat tercela dan cara-cara untuk
menghindarinya.[6]
Dalam bahasa Indonesia selain
menerima perkataan akhlak, etika dan moral yang masing-masing berasal dari bahasa
arab, yunani, dan latin, juga dipergunakan beberapa perkataan yang makna dan
tujuannya sama atau hampir sama dengan perkataan akhlak ialah, susila,
kesusilaan, tata susila, budi pekerti, kesopanan, sopan santun, adab, perangai,
tingkah laku, perilaku dan kelakuan.
B. Hubungan
antara ilmu akhlak dengan ilmu tasawuf
Sebagaimana diketahui bahwa dalam tasawuf masalah ibadah
amat menonjol, karena bertasawuf itu pada hakikatnya melakukan serangkaian
ibadah seperti shalat, puasa, haji, zikir, dan lain sebagainya, yang semuanya
itu dilakukan dalam rangka mendekatkatkan diri kepada Allah, ibadah yang
dilakukan dalam rangka bertasawuf itu ternyata erat hubungannya dengan akhlak.
Jadi ilmu tasawuf adalah ilmu
yang membahas tentang cara-cara seseorang mendekatkan dirinya kepada Allah.
Definisi lain tentang tasawuf adalah mengambil jalan hidup secara zuhud (al-zuhd),
yakni menjauhkan diri dari gemerlapnya dunia dengan segala bentuknya, disertai
dengan pelaksanaan berbagai bentuk ibadah kepada Allah.[7]
Dalam hubungan ini Harun Nasution lebih lanjut
mengatakan, bahwa ibadah dalam islam erat sekali hubungannya dengan pendidikan
akhlak. Ibadah dalam Al-qur’an dikaitkan dengan takwa, dan takwa berarti
melaksanakan perintah Tuhan dan menjauhi larangan-Nya, yaitu orang yang berbuat
baik dan jauh dari yang tidak baik. Inilah yang dimaksud dengan ajaran amar
ma’ruf nahimunkar, mengajakan orang pada kebaikan dan mencegah orang
dari hal-hal yang tidak baik. Tegasnya orang yang bertakwa adalah orang yang
berakhlak mulia. Harun Nasution lebih lanjut mengatakan, kaum sufilah, terutama
yang pelaksanaan ibadahnya membawa kepada pembinaan akhlak mulia dalam diri
mereka.
C.
Hubungan Ilmu akhlak dengan ilmu tauhid
Ilmu tauhid adalah ilmu usuluddin
, ilmu pokok-pokok agama, yakni menyangkut aqidah dan keimanan, sedangkan
akhlaq yang baik menurut pandangan
Islam, harus berpijak pada keimanan. Iman tidak cukup sekedar disimpan dalam
hati, melainkan harus dilahirkan dalam perbuatan yang nyata dan dalam bentuk
amal saleh atau tingkah laku yang baik.[8]
Ilmu Tauhid merupakan ilmu yang mambahas tentang
bagaimana cara mengesakan Tuhan. Hubungan Ilmu Akhlak dengan Ilmu Tauhid ini
sekurang-kurangnya dapat dilihat melalui empat analisa sebagai berikut:[9]
1. Dilihat dari segi
objek pembahasannya, Ilmu Tauhid sebagaimana diuraikan di atas membahas masalah
Tuhan baik dari segi dzat, sifat dan perbuatan-Nya.
2. Dilihat dari segi
fungsinya, Ilmu Tauhid menghendaki agar seseorang yang bertauhid tidak hanya
cukup dengan menghafal rukun iman dengan dalil-dalilnya, tetapi yang terpenting
adalah agar orang yang bertauhid meneladani terhadap subyek yang ada dalam
rukun iman.
3. Dilihat dari erat
kaitannya antara iman dan amal shalih. Dapat diuraikan kalau suatu keimanan
dalam Ilmu Tauhid sangat erat dengan perbuatan baik dalam Ilmu Akhlak. Dimana
Ilmu Tauhid sebagai landasannya, sedangkan Ilmu Akhlak memberikan penjabaran
dan pengalaman dari Ilmu Tauhid. Tauhid tanpa akhlak mulia tidak akan ada
artinya, dan sebaliknya pula akhlak mulia tanpa tauhid tidak akan kokoh.
Hubungan antara tauhid dan akhlaq
tercermin dalam hadits Rasulullah saw. yang diriwayatkan dari Abu Hurairah:[10]
اكمل المؤمنين إيمانا أحسنهم خلقا
(رواه الترمذى)
“Orang mu’min yang sempurna imannya
ialah yang terbaik budi pekertinya.” (H.R Tirmidzi)
Jelaslah bahwa akhlaqul karimah
adalah mata rantai iman. Sebagai contoh, malu (berbuat kejahatan) adalah salah
satu dari pada akhlaqul mahmudah. Nabi dalam salah satu haditsnya menegaskan
bahwa “malu itu adalah cabang dari pada iman.”
D.
Hubungan ilmu akhlak dengan ilmu Jiwa
Ilmu jiwa menyelidiki dan
membicarakan kekuatan perasaan, paham, mengenal ingatan, kehendak dan
kemerdekaannya, khayal, rasa kasih, kelezatan dan rasa sakit, sedang pelajaran
akhlak sangat menginginkan apa yang dibicarakan oleh ilmu, bahkan ilmu jiwa
adalah pendahuluan yang tertentu bagi akhlak. Pada masa akhir-akhir ini
terdapat dalam ilmu jiwa suatu cabang yang disebut ilmu jiwa masyarakat. Ilmu
ini menyelidiki akal manusia dari jurusan masyarakat. Yakni menyelidiki soal
bahasa dan bagaimana bekasnya terhadap akal, adat kebiasaan suatu bangsa yang
mundur dan bagaimana perkembangan susunan masyarakat. Dan bagaimana cabang ini
memberi bekas yang langsung pada etika, melebihi dari ilmu jiwa perseorangan.[11]
Menurut para sufi, akhlak seseorang bergantung
pada jenis jiwa yang berkuasa dalam dirinya.[12]
Ilmu Jiwa
membahas tentang gejala-gejala kejiwaan yang tampak dalam tingkah laku. Melalui
ilmu jiwa dapat diketahui psikologis yang dimiliki seseorang. Jiwa yang bersih
dari dosa dan maksiat serta dekat dengan Tuhan, misalnya akan melahirkan
perbuatan sikap yang senang pula, sebaliknya jiwa yang kotor, banyak berbuat
kesalahan dan jauh dari Tuhan akan melahirkan perbuatan yang jahat, sesat dan
menyesatkan orang lain.
Dengan demikian
ilmu jiwa mengarahkan pembahasannya pada aspek batin manusia dengan cara penginterpretasikan
perilakunya yang tampak. Melalui bantuan informasi yang diberikan ilmu jiwa,
atau potensi kejiwaan yang diberikan al-Qur’an, maka secara teoritis ilmu
Akhlak dapat dibangun dengan kokoh. Hal ini lebih lanjut dapat kita jumpai
dalam uraian mengenai akhlak yang diberikan Quraish Shihab, dalam buku
terbarunnya, Wawasan al-Qur’an. Ia mengatakan bahwa: “Kita dapat berkata bahwa
secara nyata terlihat dan sekaligus kita akui bahwa terdapat manusia yang
berkelakuan baik, dan juga sebaliknya.
Jadi dapat disimpulkan bahwa ilmu jiwa dan ilmu akhlak bertemu karena
pada dasarnya sasaran keduanya adalah manusia. Ilmu akhlak melihat dari apa
yang sepatutnya dikerjakan manusia, sedangkan ilmu jiwa (psikologi) melihat
tentang apa yang menyebabkan terjadinya suatu perilaku.
E. Hubungan ilmu akhlak dengan ilmu pendidikan
Ilmu pendidikan dalam berbagai literatur banyak berbicara
mengenai berbagai aspek yang ada hubungannya dengan tercapainya tujuan
pendidikan. Ahmad D.Marimba mengatakan bahwa tujuan pendidikan adalah identik
dengan tujuan hidup seorang muslim, yaitu menjadi hamba Allah yang mengandung
implikasi kepercayaan dan penyerahan diri kepada-Nya. Pendidikan dalam
pelaksanaanya memerlukan dukungan orang tua dirumah, guru di sekolah serta
pimpinan tokoh masyarakat di lingkungan. Semua lingkungan ini merupakan bagian integral
dari pelaksanaan pendidikan, yang berarti pula tempat dilaksanakannya
pendidikan akhlak untuk meciptakan akhlak yang baik bagi generasi bangsa[13]
Ilmu pendidikan sering dijumpai
dalam berbagai literatur dan banyak berbicara mengenai berbagai aspek yang ada
hubungannya dengan tercapainya tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan dalam
pandangan Islam banyak berhubungan dengan kualitas manusia yang berakhlak.
Sementara itu, Muhammad Athiyah al-abrasyi mengatakan bahwa pendidikan budi
pekerti adalah jiwa dari pendidikan Islam, dan Islam telah menyimpilkan bahwa
pendidikan budi pekerti dan akhlak adalah tujuan sebenarnya dari pendidikan.
Hakikat pendidikan adalah
menyiapkan dan mendapingi seseorang agar memperoleh kemajuan dalam menjalani
kesempurnaan. Kebutuhan manusia terhadap pendidikan beragama seiring dengan
beragamnya kebutuhan manusia.[14]
Ia membutuhkan pendidikan fisik untuk menjaga keseharan fisiknya, ia
membutuhkan pendidikan akal agar jalan pikirnya sehat, ia membutuhkan
pendidikan sosial agar membawanya mampu bersosialisasi, ia membutuhkan
pendidikan agama untuk membimbing rohnya menuju Allah, ia membutuhkan pula
pendidikan akhlak agar perilakunya seirama dengan akhlak yang baik.
Pendidikan akhlak merupakan benang
perekat yang merajut semua jenis pendidikan di atas dengan kata lain, semua
jenis pendidikan di atas harus tunduk pada kaidah-kaidah akhlak.
F.
Hubungan ilmu akhlak dengan ilmu Filsafat
Filsafat adalah ilmu pengetahuan
yang berusaha menyelidiki segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada
dengan menggunakan pikiran. Filsafat melakukan penyelidikan
segala sesuatu yang ada secara mendalam dengan menggunakan akal sampai pada
hakikatnya. Filsafat bukan mempersoalkan gejala-gejala atau fenomena, tetapi
yang dicari adalah hakikat dari fenomena.[15]
Bagian-bagiannya meliputi:[16]
a.
Metafisika: penyelidikan di balik
alam yang nyata
b.
Kosmologia: penyelidikan tentang
alam(filsafat alam)
c.
Logika: pembahasan tentang cara
berfikir cepat dan tepat
d.
Etika: pembahasan tentang tingkah
laku manusia
e.
Theodicea: ketuhanan tentang
ketuhanan
f.
Antropologia: pembahasan tentang
manusia
Dengan demikian, jelaslah bahwa etika
termasuk salah satu komponen dalam filsafat. Banyak ilmu-ilmu yang pada mulanya
merupakan bagian filsafat karena ilmu tersebut kian meluas dan berkembang dan
akhir membentuk rumah tangganya sediri dan terlepas dari filsafat. Demikian
juga dalam etika dalam proses perkembangannya, sekalipun masih diakui sebagai
bagian dalam pembahasan filsafat, kini telah merupakan ilmu yang mempunyai
identitas sendiri.
Etika
dianggap sebagai bagian dari filsafat
atau pemikiran kritis dan mendasar tentang ajaran dan pandangan moral.
Di dalamnya etika mau mengerti mengapa kita harus mengikuti ajaran moral tertentu, atau
bagaimana kita dapat mengambil sikap yang bertanggung jawab berhadapan dengan
berbagai ajaran moral. Melalui filsafat ini, etika berusaha untuk mengerti
mengapa, atau dasar apa kita harus hidup menurut norma-norma tertentu.[17]
IV.
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Dari uraian makalah diatas dapat disimpulkan bahwa:
1.
Dari banyaknya ilmu yang berkembang saat ini, hampir
semuanya menjadikan akhlak sebagai landasannya. Ilmu Akhlak dengan Ilmu Tasawuf
itu saling berkaitan satu sama lain. Dalam hal ini tampak pada nilai-nilai yang
sama dalam hal takwa kepada sang pencipta.
2.
Hubungan Ilmu Akhlak dengan Ilmu Tauhid yaitu Ilmu Tauhid
sebagai landasannya, sedangkan Ilmu Akhlak sebagai media penjabaran dan
peneladanan dari Ilmu Tauhid. Keterkaitan
ilmu akhlak dengan Ilmu Jiwa tampak pada pentingnya memberikan pengajaran
akhlak pada perkembangan jiwa seseorang sesuai tingkat usia mereka.
3.
Ilmu Akhlak dan Ilmu pendidikan sangat erat hubungannya,
dimana ilmu pendidikan dijadikan sebagai media transfer ilmu akhlak, sehingga
terciptanya akhlak yang baik bagi generasi penerus bangsa.
4.
Ilmu akhlak dengan filsafat juga saling berkaitan. Dengan
adanya filsafat yang mengkaji sesuatu secara mendalam akan memudahkan dalam
mendalami ilmu akhlak. Dengan kata lain akhlak dapat dijadikan sebagai objek
kajian dalam filsafat.
B.
SARAN
Demikian makalah ini disusun sebagai tugas makalah mata
kuliah akhlak tasawuf tentang hubungan ilmu akhlak denga ilmu-ilmu lainnya
Karya ini merupakan hasil maksimal dari kami, dan kami menyadari bahwa makalah
ini jauh dari harapan dan sempurna. Karena itu, saran dan masukan,dari pembaca
sangat kami harapkan dalam penyempuranaan makalah ini.
Semarang, 7 September
2015
DAFTAR PUSTAKA
BUKU:
Amin, Ahmad. 2013. Etika (Ilmu Akhlak). Jakarta: PT Bulan
Bintang.
Anwar, Rosihon. 2010. Akhlak Tasawuf,. Bandung: CV Pustaka Setia
Jamil, Akhlak Tasawuf. 2013.
Ciputat: Referensi
Nasution , Ahmad Bangun dan Royani Hanum
Siregar,. 2013. Akhlak Tasawuf. Depok:PT Raja Grafindo Persada
Nata, Abuddin dkk.. 2005. Integrasi Ilmu
Agama dan Ilmu Umum. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Nata, Abuddin. 2011. Akhlak Tasawuf . Jakarta:
Rajawali Pers.
Surajiyo.
2007. Ilmu Filsafat Suatu Pengantar. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Ya’qub, Hamzah. 1988. Etika Islam Pembinaan Akhlaqulkarimah
(suatu pengantar),. Bandung: CV. Diponegoro
INTERNET:
http:
serpihan Ilmu_ Memahami Hubungan Ilmu Akhlak dengan ilmu lain..html dari buku Nata, Abuddin. 2011. Akhlak Tasawuf . Jakarta:
Rajawali Pers. diakses
tanggal 6 September 2015 pukul 08.30 WIB
[1] Hamzah Ya’qub, Etika Islam Pembinaan Akhlaqulkarimah (suatu
pengantar), (Bandung: CV. Diponegoro, 1988), hlm. 23
[2] Ahmad Bangun Nasution dan Royani Hanum Siregar, Akhlak Tasawuf,
(Depok:PT Raja Grafindo Persada, 2013), hlm. 30
[3] Hamzah Ya’qub, Etika Islam Pembinaan Akhlaqulkarimah (suatu
pengantar), (Bandung: CV. Diponegoro, 1988), hlm. 11
[6] Abuddin Nata dkk., Integrasi Ilmu Agama dan Ilmu Umum, ( Jakarta:
PT RajaGrafindo Persada, 2005), hlm. 32
[9] Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf (Jakarta: Rajawali Pers, 2011),
hal. 17-32
[13] http: serpihan
Ilmu_ Memahami Hubungan Ilmu Akhlak dengan ilmu lain..html dari
buku Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf (Jakarta:
Rajawali Pers, 2011), hlm. 37-38 diakses tanggal 6 September 2015 pukul
08.30 WIB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar